Tuesday, April 21, 2020

Zero Waste dan Pandemi Virus Corona: Gaya Hidup yang Membantu Bertahan Hidup


Photo by Engin Akyurt


SAAT artikel ini ditulis, sudah satu bulan lebih saya diam di rumah. Pandemi virus corona, membuat banyak rencana harus ditunda, pekerjaan dikerjakan di rumah, saya hanya keluar sesekali kalau belanja bahan makanan dan beberapa keperluan penting saja. Betapa rutinitas diam di rumah terlama yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Beberapa hari terakhir, berita panic buying di Kota Bandung berseliweran. Sebuah pemandangan jelang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), mulai 22 April 2020. Salah seorang teman bahkan mengirim pesan, baru saja dia berbelanja di salah satu supermarket dekat rumah yang ternyata sangat penuh dan antri, bahkan hingga dijaga ketat petugas bersenjata.

Cara kita semua merespon pandemi virus corona, berbeda-beda. Panik adalah salah satunya. Lainnya tenang, gelisah, bosan, cemas, takut, dan banyak perasaan campur aduk lainnya.

Jujur, saya sendiri merespon pandemi ini dengan sedikit cemas, meski tetap berusaha tenang. Salah satu kecemasan terbesar saya adalah jika pasar tradisional dekat rumah ditutup, meski sejauh ini masih sangat kecil kemungkinannya.

Salah satu pertanyaan menarik di tengan pandemi virus corona ini, adalah kaitannya dengan gaya hidup zero waste. Sejak pandemi terjadi, sebagian besar orang beraktivitas di rumah sehingga aktivitas online meningkat, termasuk belanja online, hingga pesan antar makanan berbasis aplikasi. Berbelanja keluar seakan menjadi momok menakutkan.

Apakah zero waste bisa dilakukan saat seperti ini? Rasanya berat sekali harus menghindari kemasan makanan di tengah kondisi seperti sekarang.

Saya kira, jawaban sederhana dari pertanyaan ini adalah YA, zero waste tetap bisa dilakukan. Pandemi virus corona bukanlah akhir dari gaya hidup zero waste. Karena zero waste pada dasarnya adalah mindset.

Namun bagi teman-teman yang kesulitan meminimalisir sampah, tidak perlu merasa sedih dan bersalah. Saya sangat paham, untuk saat seperti pandemi ini untuk sebagian banyak orang surviving is the best they can do right now.

Yang ingin saya share adalah, bagi saya, gaya hidup zero waste justru banyak membantu saya tetap tenang selama masa pandemi virus corona. Tidak ikut panik berbelanja makanan berlebih. Dan membantu bertahan sehat, bahkan membantu bertahan dengan berhemat pengeluaran (Dimana masalah finansial menjadi hantaman besar yang dihadapi hampir semua orang di dunia).

Pola makan


Di luar rutinitas harian saya yang berubah karena jadi lebih banyak di rumah, saya menjalani pola makan seperti biasa. Benar-benar tidak banyak berubah. Pola makan apa adanya seperti sebelum pandemi virus corona datang. Tetap makan sayuran dan buah-buahan, tidak jajan kemasan.

Bahkan ketika harus berpikir stok makanan tahan lama, saya hanya terpikir membeli sebungkus sosis untuk berjaga-jaga. Hingga tulisan ini dibuat, sosis yang dibeli berapa minggu lalu belum juga diolah.

Saya tetap berbelanja ke pasar tradisional, karena biasanya seperti itu, dan itu tetap jadi pilihan saya di masa pandemi ini, karena memang akses yang dekat. Yang berubah adalah jam berbelanja ke pasar menjadi malam hari, dimana pembeli masih sedikit tidak sebanyak dan sepadat di pagi hari.

Satu-satunya perubahan yang paling kentara dari pola makan, adalah tidak lagi banyak jajan di luar dengan wadah sendiri. Oh i really miss this.

Selain karena jarang keluar, juga karena di sekitar rumah sangat sepi, dimana nyaris semua tukang jualan tutup karena pandemi. Tetangga yang berjualan kue, hanya berjualan sesekali.

Cara mengakali ingin cemilan (yang meningkat selama di rumah) adalah dengan stok umbi-umbian (ubi, singkong) untuk dikukus, jagung untuk direbus, atau buat gorengan pisang, bakwan sayur, dll. Trik lainnya adalah, menambah sesi makan berat. hahaha.

Enggak jajan online? honestly, engga. Memang kebiasaan saya sebelumnya ngga jajan online. Selama masa pandemi, jasa online yang saya pakai adalah kirim barang. Adapun "jajan onlinenya" dengan beli jualan teman, yang biasanya mereka antar sendiri atau dikirim jasa online dengan packing sesuai request, atau dipinjamkan wadah dari mereka nanti dikembalikan (yes, keuntungan pesan dari teman sendiri). Kita bisa saling bantu dengan banyak cara bukan. Jangan lupa, bantu orang-orang terdekat dulu.

Yang terasa berubah adalah, produksi sampah organik saya yang meningkat drastis karena rutinitas memasak yang juga sangat pesat hahaha. Komposter takakura pun jadi cepat penuh, dan saya banyak improvisasi membuat komposter dadakan dengan pot dan karung.



Kebutuhan dapur


Gaya hidup zero waste yang selama ini saya terapkan, juga sangat membantu berhemat kebutuhan dapur. Di masa pandemi ini, saya baru sadar betapa saya sangat dimudahkan dan berhemat dalam penggunaan kebutuhan dapur seperti minyak goreng dan gula.

Pembelian sembako di berbagai tempat dibatasi untuk mengatasi panic buying. Gula menjadi langka, salah satunya karena kesulitan impor, dan para penimbun. hehe. Seorang teman bercerita, dia bergantian dengan anggota keluarga lainnya demi bisa membeli beberapa kilogram gula dan minyak goreng di supermarket, untuk persediaan mereka di rumah.

Sejak menerapkan zero waste, saya hanya membeli minyak goreng ukuran jeriken 5 liter. Terakhir kali (tahun lalu), saya baru menghabiskan 5 liter minyak goreng dalam 9 bulan. Pencapaian terpanjang saya dalam konsumsi minyak goreng.

Awal tahun lalu, saya baru membeli 5 liter minyak goreng. April ini, setelah 4 bulan pembelian, masih tersisa setengah jeriken minyak goreng atau sekitar 2,5 liter. Target saya (yang saya pasang di awal tahun), di tahun ini hanya menggunakan 5 liter minyak goreng itu saja. Selain menghemat penggunaan minyak goreng, yang caranya bisa dibaca disini, juga mengurangi makan goreng-gorengan dengan lebih banyak mengonsumsi sayur, kukusan, dan rebusan.

Jadi ketika sekarang pembelian minyak goreng dibatasi, saya tenang saja dengan stok minyak goreng yang masih ada sejak awal tahun.

Soal gula, sudah lama saya mengurangi konsumsi gula. Suami juga sudah tidak minum kopi dengan gula. Jauh sebelum pandemi virus corona, saya punya 1 kg gula pasir. Saat ini, masih tersisa setengah kilogram gula pasir di rumah. Jadi, saat gula pasir kini begitu langka, saya merasa baik-baik saja dan tidak ikut panik karena memang konsumsi gula sudah lama bukan jadi prioritas.

Satu-satunya bumbu yang saya beli untuk stok adalah garam. Haha. Karena bumbu masak utama saya adalah gula, garam, dan merica. Saya sempat ingat beberapa waktu lalu garam sempat hilang di pasaran. Khawatir garam hilang lagi karena pandemi ini, saya beli stok garam 2 bungkus masing-masing ukuran 500gr.

Karena dalam kondisi survival di alam pun, yang penting ada garam untuk bumbu perasa. hehe.

Hemat

Kalau ingin membuktikan bahwa zero waste adalah gaya hidup yang hemat. Inilah saatnya. Dengan mayoritas memasak makanan sendiri di rumah, pengeluaran pun berkurang drastis.

Tentu ini tidak berlaku jika selama masa pandemi ini, yang meningkat adalah jajan makanan via aplikasi online ya, hehe.

*****

Tulisan ini bukan sindiran untuk siapapun. Namun melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi cerita bagaimana sebuah gaya hidup bisa sangat membantu (saya) bertahan hidup di tengah kondisi pandemi seperti ini. Tetap menerapkan gaya hidup zero waste di tengah kondisi seperti ini juga bukan berarti memaksakan idealisme, tapi karena memang seperti itu keseharian (terutama pola makan) yang dilakukan.

Tentu, sangat tidak akan mudah dilakukan jika akses yang dimiliki sangat terbatas. Dan tentu akan jauh lebih mudah, jika kita didukung sistem keseluruhan (pangan hingga pengelolaan sampah) yang berkelanjutan.

Ada teman lainnya yang bilang kalau pandemi virus corona seakan membuat kondisi produksi sampah rumah tangganya menjadi lebih meningkat dari pada biasanya. Kenapa? bukan karena virusnya, tapi ini gambaran bahwa mayoritas masyarakat kita masih sangat bergantung pada produk makanan konvensional yang beredar di pasaran.

Produksi sampah di rumah juga seakan meningkat, karena konsumsi yang meningkat, dan intensitas diam di rumah yang lebih lama. Jadi, semua sampah yang diproduksi dalam sehari ditampung sendiri di rumah. Biasanya, dalam sehari orang berkegiatan di luar dan menumpang membuang sampah di luar (kantor, sekolah, mall, dan lainnya).

Selain itu, sistem pangan kita secara keseluruhan juga masih sangat jauh dari kata berkelanjutan. Sehingga ketika berhadapan dengan situasi darurat seperti pandemi, tidak ada pilihan lain dari menggunakan sistem produksi pangan yang ada (dan mengandalkan berkemasan jadi prioritas dan juga karena alasan higienitas).

Ini sekaligus menjawab bagaimana untuk pembagian sembako dan lainnya yang berkemasan? Saya kira, untuk konteks bantuan masal tidak perlu membahas ranah zero waste, karena sekali lagi kita tidak punya sistem kedaruratan yang berbasis minim sampah. Selain itu dalam kondisi darurat atau kebencanaan hal-hal seperti safety dan kesegeraan menjadi prioritas. Meski, sangat tidak menutup kemungkinan untuk memberikan bantuan minim sampah (koordinir sendiri bantuan di wilayah tempat tinggal misalnya).

Kembali ke persoalan meminimalisir sampah saat pandemi, jika akses dan kondisi di sekitar teman-teman tidak memungkinkan untuk menghindari produksi sampah, jangan berkecil hati. Cukup cari alternatif yang paling minim produksi sampahnya, atau lebih kecil dampak lingkungannya. Kita juga bisa tetap pilah sampah, untuk nanti didistribusikan ke bank-bank sampah setelah pandemi ini berakhir (jika bank sampah atau pengepul terdekat tutup selama masa pandemi).

Jangan lupa, mengompos sisa organik sendiri di rumah. Karena mengompos menyelesaikan 50 persen masalah sampah.

Selain itu, teman-teman yang belum bisa mengurangi produksi sampah karena pandemi virus corona ini, jangan merasa sedih. Masih ada cara yang bisa kita lakukan untuk belajar memulai hidup berkelanjutan di tengah pandemi corona, yang saya bahas di artikel selanjutnya, karena ini sudah kepanjangan hehehe. Bisa klik disini ya untuk tulisan lanjutannya.

Akhir kata, mari sama-sama berdoa agar pandemi ini segera berlalu. Dan kita semua selalu diberikan berkah kesehatan dan keselamatan. Amin ya Rabbal Alamin.***

(to be continued)

No comments:

Post a Comment