Sunday, July 8, 2018

Fakta Pahit Susu Kental Manis, Motivasi untuk Zero Waste

sumber foto


SUSU kental manis dinyatakan tak mengandung susu. Kabar ini ramai jadi pemberitaan di berbagai media massa, sejak sekitar Rabu, 4 Juli 2018 lalu.

Menarik sekali bagaimana semesta berkonspirasi. Berapa hari sebelumnya, saya baru saja bertekad tidak lagi beli susu kemasan. Ini setelah saya baru mempelajari tentang betapa tidak bermanfaatnya susu kemasan, bukan hanya susu kental manis, tapi semua susu kemasan.



Saya memahami terkait persoalan susu, dari sesi sharing ibu Inge Tumiwa Bachren terkait pola makan Eating Clean. Apa yang langsung muncul di benak saya adalah "ini prinsipnya sejalan banget sama zero waste".

Saya sebut sejalan, karena prinsip clean eating pada dasarnya menolak segala jenis makanan berkemasan. Terutama makanan kemasan yang diproduksi pabrik, tidak terkecuali susu kemasan (cair, kental manis, maupun bubuk). "Susu kemasan itu gula. Bukan susu," kata bu Inge.

Mendengar informasi ini, mata saya berbinar. Tidak lagi membeli susu kemasan, artinya semakin berkurang lagi potensi sampah yang saya hasilkan di rumah. Yes! Motivasinya tetap zero waste,

Selama ini, saya masih mengonsumsi susu, meski memang terhitung jarang. Paling sering beli susu satu bulan sekali. Terkadang beli kemasan 1 liter, atau pak suami beli kental manis untuk campuran dengan kopi. Kalau pun susu murni, hanya kalau ada kesempatan ke Lembang, suka sengaja bawa botol kosong untuk beli susu murni di pabriknya langsung..



Ini karena saya masih berpikir, masih butuh untuk minum susu meskipun sedikit. Padahal, ternyata tidak minum susu pun sama sekali bukan masalah.

"Karena kebutuhan kalsium dan magnesium dari susu, sudah bisa dipenuhi dari sayur-sayuran. Lagi pula, tubuh manusia sebenarnya tidak memiliki enzim untuk mencerna susu sapi/hewan ternak lainnya. Susu terbaik untuk manusia, yakni ASI yang kita minum sewaktu bayi," ujar Inge Tumiwa Bachren.

Secara sederhana, ia menganalogikan, masing-masing makhluk hidup mengonsumsi susu hanya di waktu bayi. Manusia dengan ASI, sapi dan hewan ternak lainnya pun sewaktu bayi. "Apa ada sapi yang masih minum susu ibunya ketika sudah dewasa?" katanya.

Adapun fakta pahit tentang susu kental manis, sebenarnya adalah fakta yang sudah lama ada. Hanya saja baru kali ini menjadi viral, dan membuktikan bahwa masih banyak masyarakat yang selama ini terlambat tahu informasi soal itu. Selain masalah susu, masyarakat juga terlambat paham tentang bahayanya makanan kemasan, karena selama ini hanya menjadi korban iklan makanan-makanan kemasan.

Pedoman Gizi Seimbang


Fakta bahwa susu (apalagi susu kemasan) tidak wajib dikonsumsi, dipastikan dengan tidak diberlakukannya lagi prinsip 4 sehat 5 Sempurna sejak 2011. Dikutip dari Kompas.com edisi 29 Januari 2011 silam, prinsip 4 sehat 5 sempurna tidak diberlakukan lagi karena dianggap sudah tidak lagi relevan.

Pemerintah sudah lama mengganti 4 Sehat 5 Sempuran, dengan Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Apa perbedaannya?

Masih ingat prinsip 4 sehat 5 sempurna?
1. Makanan Pokok
2. Lauk-Pauk
3. Sayur-Mayur
4. Buah
5. Susu

Mengutip Detik.Com, Ahli Gizi yang juga guru besar IPB Prof Soekirman menjelaskan jika konsep 4S 5S diciptakan karena pada tahun 1950-an orang belum tahu cara makan yang benar. "Tetapi sejak tahun 90-an, permasalahan gizi sudah berubah. Sekarang banyak negara menghadapi masalah kegemukanan, obesitas dengan akibatnya diabetes, hipertensi, jantung, stroke, yang mewabah ke negara maju dan berkembang," katanya.

Penyakit-penyakit modern yang mewabah itu, salah satu pemicunya adalah konsumsi makanan kemasan yang mendominasi pola makan masyarakat saat ini. Ibu Inge Tumiwa Bachren bahkan memulai pola makan eating clean demi melawan penyakit-penyakit modern yang menggerogoti anggota keluarganya. Mulai dari kanker, obesitas, jantung, autoimun, dan lainnya.

"Kita hidup di tengah makanan rekayasa. 70 persen makanan yang dikonsumsi masyarakat kota, adalah makanan rekayasa. Sulit membedakannya, kecuali kita paham," ujar Bu Inge.

Mengutip  Pedoman Gizi Seimbang yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI (2014), terdapat perbedaan mendasar antara slogan 4 Sehat 5 Sempurna dengan Pedoman Gizi Seimbang. Yaitu konsumsi makanan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan porsi yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur.

Selain itu, konsumsi makanan dalam Pedoman Gizi Seimbang juga harus memperhatikan prinsip 4 pilar:
1. Keanekaragam pangan
2. perilaku hidup bersih
3. Aktivitas fisik
4. mempertahankan berat badan normal

Dalam Pedoman Gizi Seimbang, susu tidak lagi diberlakukan sebagai penyempurna pola makan. Namun dimasukkan sebagai salah satu sumber protein/lauk pauk. Sehingga, kalau pun tidak minum susu bisa diganti dengan konsumsi alternatif lainnya yang setara seperti misalnya telur.

Eating Clean 

Seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini, saya tertarik dengan Eating Clean, karena prinsipnya yang sejalan dengan Zero Waste.

Jika zero waste menghindari makanan berkemasan karena sudut pandang masalah sampah yang dihasilkan, Eating clean menghindari makanan kemasan karena dari sudut pandang kesehatan.

Mengutip dari buku Eating Clean Inge Tumiwa Bachren, setidaknya ada tiga prinsip dasar Eating Clean yang paling sederhana:

1. Makan makanan yang sebenarnya (real food)
2. Kurangi/hentikan konsumsi makanan yang tidak sehat (makanan proses/kemasan, junk food, gula, tepung proses, lemak tidak sehat, susu, dan produk-produk makanan yang terbuat dari susu.
3. Makan dengan komposisi, porsi, dan cara yang benar serta sehat

Eating Clean juga mendorong kita untuk memahami bahwa makanan proses yang diproduksi secara modern adalah makanan palsu yang tidak baik untuk kesehatan. Karena bahan dasar makanan-makanan proses itu umumnya menggunakan produk pangan dengan bibit yang sudah direkayasa genetik (GMO), tinggi kandungan gula, sodium, MSG, lemak tidak sehat, hingga berbagai zat aditif dan kimia lainnya yang berbahaya jika dikonsumsi terus menerus.

Sederhananya, Eating Clean mendorong untuk makan makanan asli, yakni bahan makanan yang masih dalam wujud aslinya seperti sayuran, buah-buahan, ataupun sumber protein hewani seperti ikan dan daging asli.

"70 persen eating clean adalah plant based, usahakan yang organik. 30 persen sisanya adalah daging, itu pun daging yang hewannya makan pakan asli seperti rumput, bukan makanan ternak buatan pabrik," kata bu Inge.

Bagi saya, memahami bahaya makanan kemasan termasuk susu dan juga segala bentuk jenis gula begitu berbahaya untuk kesehatan, membuat perasaan menjadi sangat, sangat, sangat lega. I'm on a right path with zero waste..

Dan untuk teman-teman yang baru mengetahui fakta Susu Kental Manis itu bukan susu, jangan khawatir. Mungkin ini sudah saatnya teman-teman untuk mengubah pola pikir, dan memulai zero waste.

No comments:

Post a Comment