Tuesday, May 15, 2018

Tips Ramadan Tanpa Sampah (Zero Waste Ramadan)


foto: www.canva.com


Ramadan sejatinya menahan hawa nafsu. Dan sampah yang kita hasilkan selama bulan Ramadan, boleh jadi salah satu representasi hawa nafsu kita yang belum berhasil kita kendalikan. Hawa nafsu konsumerisme berlebihan. Ini sih dalam pandangan saya, yang mungkin teman-teman tidak sepakat :).

Kita bisa kok melewati bulan Ramadan dengan tanpa menghasilkan sampah. Dan dengan menerapkan paradigma zero waste, secara gak langsung kita juga akan lebih mengendalikan hawa nafsu konsumerisme, dan bonusnya adalah Ramadan yang lebih sehat karena makanan yang dikonsumsi juga lebih sehat.


***

MARHABAN ya Ramadan! Alhamdulillah, masih diberi kesehatan dan umur untuk menunaikan ibadah puasa.

Beberapa minggu sebelum memasuki bulan Ramadan, beberapa teman sudah mulai menghubungi saya untuk mengagendakan jadwal berbuka puasa bersama. Minggu kedua puasa, biasanya jadi minggu yang padat dengan agenda buka bersama, bahkan seringkali bentrok di hari yang bersamaan.

Sudah empat tahun terakhir ini, saya jarang sekali ikut acara buka puasa bersama. Dua tahun pertama, karena saat itu saya dinas bekerja di Jakarta, jadi kalau pun sedang pulang ke Bandung saya memiliki berbuka di rumah dengan suami. Sementara dua tahun terakhir, saya memutuskan tidak banyak ikut agenda buka puasa bersama, karena tidak nyaman dengan tempat-tempat publik yang sangat tidak kondusif ketika waktu berbuka.

Selain sangat ramai, berbuka puasa di tempat-tempat makan umum juga akhirnya memaksakan kita untuk langsung mengonsumsi makanan berat yang kadang berlebihan, dan lebih jauh lagi juga menghasilkan sampah yang lebih banyak. hehe.

Perasaan tidak nyaman itu bukan cuma dirasakan saya. Banyak teman yang juga sudah mulai malas berbuka puasa bersama di tempat umum yang ramai dan hectic suasananya. Teman-teman yang mengubungi saya untuk mengagendakan buka bersama, lebih merencanakan untuk acara berbuka yang lebih personal dan intim seperti di rumah salah satu teman, ataupun tempat yang relatif sepi.

Buka puasa bersama sudah jadi semacam tradisi Ramadan di Indonesia. Banyak tradisi, kebiasaan, dan fenomena lainnya yang hanya terjadi di bulan Ramadan. Salah satu fenomena yang menarik perhatian saya adalah sikap konsumtif yang entah kenapa malah semakin berlebihan di bulan Ramadan, dan tentunya berdampak pada produksi sampah yang (mungkin) jadi semakin berlebih dari biasanya.

Mulai dari takjil dan camilan lainnya untuk berbuka puasa, makan malam, dan atau makan lagi tengah malam, hingga menu sahur yang kadang serba mewah dari biasanya. Sampah yang dihasilkan selama bulan Ramadan? bisa berkaca sendiri dari bulan-bulan puasa tahun lalu ya.

Ramadan sejatinya menahan hawa nafsu. Dan sampah yang kita hasilkan selama bulan Ramadan, boleh jadi salah satu representasi hawa nafsu kita yang belum berhasil kita kendalikan. Hawa nafsu konsumerisme berlebihan. Ini sih dalam pandangan saya, yang mungkin teman-teman tidak sepakat :).

Kita bisa kok melewati bulan Ramadan dengan tanpa menghasilkan sampah. Dan dengan menerapkan paradigma zero waste, secara gak langsung kita juga akan lebih mengendalikan hawa nafsu konsumerisme, dan bonusnya adalah Ramadan yang lebih sehat karena makanan yang dikonsumsi juga lebih sehat.

Tips di bawah ini sebenarnya alat pengingat saya untuk tetap konsisten zero waste di bulan Ramadan. Tips yang mungkin bisa teman-teman coba, dan mudah-mudahan Ramadan kita semua lebih berkah karena tidak menghasilkan sampah.

1. Beli takjil dengan wadah sendiri

Takjil adalah satu hal yang tidak bisa dilewatkan di Bulan Ramadan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), takjil adalah mempercepat (dalam berbuka puasa).

Jadi takjil sebenarnya bukan nama atau jenis makanannya. Bisa berupa apa saja, bahkan air putih juga sebenarnya takjil. Tapi selama ini takjil sudah kadung dikaitkan dengan beragam kolak (pisang, candil, dll), kolang kaling, bubur sumsum, kacang hijau, dan masih banyak lagi.

Makanan-makanan tradisional khas Indonesia ini memang sayang kalau dilewatkan. Tapi sayangnya, banyak sekali takjil-takjil ini yang dijual dengan sudah dikemas dalam cup plastik, atau kantong plastik bening. Ada juga yang dikemas cup plastik, lalu di-double dengan plastik bening. Praktis, kata kunci kenapa mereka dijual dengan kemasan.

Untuk menghindari sampah-sampah plastik dan cup plastik dari takjil, belilah takjil di penjual yang belum mengemasnya dengan cup ataupun plastik. Masih banyak kok penjual yang menjajakan takjil tanpa kemasan. Jangan lupa bawa wadah sendiri untuk membeli takjil kesukaanmu.

Bayangkan selama 30 hari kalian tidak membeli takjil berkemasan cup plastik, artinya ada 30 sampah cup plastik yang berhasil kalian hindari.

2. Ganti camilan manis dengan buah-buahan

Meskipun takjil kolak sangat enak dan sayang dilewatkan, baiknya jangan terlalu banyak mengonsumsinya. Meskipun berbuka puasa memang harus dengan yang manis, tapi terlalu banyak juga justru tidak bagus untuk kesehatan.

Kalau dihitung, mungkin kadar gula dalam kolak sudah lebih dari yang kita butuhkan. Belum lagi, mungkin kita juga akan mengonsumi makanan manis lainnya selain kolak, seperti minuman manis hingga kue-kue lainnya, jadi kadar gula akan terlalu berlebih dan membuat kita begah.

Dari sudut pandang zero waste, mengganti camilan-camilan manis (dan biasanya berkemasan) dengan buah-buahan akan menghindari produksi sampah. Dari sudut pandang kesehatan, tentunya lebih banyak mengonsumsi buah-buahan jauh lebih baik karena kadar gula alami bagus untuk kesehatan.

3. Pilih kurma dengan kemasan paling ramah lingkungan

Masih berkaitan dengan takjil dan camilan, jangan lupa sediakan kurma. Mengonsumsi kurma saat berbuka dan juga sahur adalah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Dari sudut pandang zero waste, mengonsumsi kurma sebagai pengganti camilan akan meminimalisir produksi sampah. Pilih kurma dalam kemasan dus, ukuran dus atau jumlah kurma sesuaikan dengan kebutuhan. Untuk satu keluarga besar, pilih kemasan dus kurma yang besar, jangan yang kecil-kecil. Selain biasanya lebih murah, juga menghindari

Saya beli kurma dalam dus 1 kg untuk konsumsi 2 orang. Jumlah ini cukup untuk selama 1 bulan puasa. Jadi saya hanya menghasilkan satu sampah dus kurma.

Ada juga kurma yang dijual kiloan di pinggir jalan. Tapi sayangnya, banyak sekali pedagang kurma kiloan pinggir jalan ini yang kurang bisa dipercaya, karena manisnya kurma tidak alami. Karena itu saya pilih yang kemasan dus.

Adapun dari sudut pandang kesehatan, mengonsumsi kurma apalagi untuk berbuka dan penutup sahur juga sangat baik untuk tubuh. Ada juga tips untuk mengonsumsi air rendaman kurma (air nabeez), yakni kurma direndam selama 12 jam sebelum diminum airnya, dan kurma rendamannya juga bisa dimakan.

Mengonsumsi air rendaman kurma ini juga salah satu yang akan saya coba selama bulan puasa.

4. Sebisa mungkin hindari berbelanja

Ini mah saran saya ya. Di Ramadan tahun ini, coba untuk tidak berbelanja (selain bahan makanan tentunya). Hehe. pasti berat ya, apalagi untuk perempuan dan ibu-ibu.

Tapi coba lihat lagi koleksi pakaian di lemari, pasti masih banyak pakaian-pakaian bagus tahun lalu untuk dipakai di hari raya. Dengan tidak berbelanja, apalagi berbelanja berlebihan, kalian bisa menghindari produksi sampah, menghemat uang THR, dan terhindar dari kemacetan dan tumpah ruah umat pasar baru hahaha.

Kalau saya sendiri sudah tidak pernah beli baju lebaran. Sejauh ini masih berusaha buy nothing, dan berjuang decluttering pakaian yang ada.

5. Masak sendiri, dan perbanyak sayuran

Bulan Ramadan juga kesempatan untuk lebih sering memasak makanan sendiri. Mengingat ritme makan yang hanya dua kali, berbuka dan sahur, akan lebih mudah untuk menyiapkan dan memasak makanan.

Saat menyiapkan makanan untuk berbuka, bisa sekalian untuk menu sahur (saya biasanya begini). Atau sebaliknya, setelah sahur menyiapkan untuk berbuka (kalau sibuk harus kerja di pagi harinya). Ritmenya bisa disesuaikan aja dengan kebutuhan dan kesibukan kalian.

Mumpung masak sendiri, perbanyak menu sayuran. Selain mudah, sayuran juga tanpa sampah karena kalian bisa banyak temukan sayur tidak berkemasan di pasar tradisional. Jangan lupa, sampah organik sisa memasaknya dikompos.

Menu makanan yang dibuat tidak perlu yang sulit. Dari sudut pandang zero waste, semakin sederhana proses masak dan minim bumbu, makanan akan semakin minim sampah. Dari sudut pandang kesehatan, makanan yang sederhana proses masaknya dan minim bumbu, justru semakin baik karena kadar vitamin di dalamnya tidak banyak terbuang. Selain itu, konsep ini juga sejalan dengan konsep clean eating, dan juga pola makan sehat lainnya yang mengedepankan plant based.




Selain tips, saya juga akan berbagi jurnal bagaimana saya melalui Ramadan tanpa menghasilkan sampah. Menu-menu makanan yang saya konsumsi selama bulan puasa, bagaimana proses makanan dibeli, sampai mengompos sisa sampah organiknya. Jurnal zero waste Ramadan diupdate setiap hari, yang bisa teman-teman baca disini.***

No comments:

Post a Comment