Monday, August 10, 2020

Kompor Spirtus untuk Alternatif Bahan Bakar Minim Sampah | Zero Waste Adventure

FOTO: DOK Pribadi Zero Waste Adventure


AKHIR pekan di awal Agustus 2020 jadi kali pertamanya saya kembali menjajal trek hiking, sejak Pandemi Corona mengubah dunia. Berdua dengan seorang teman, saya memutuskan untuk pergi camp semalam, dan trekking ringan keesokan harinya.

"Ini spirtusnya cukup gitu," tanya teman saya, melihat spirtus yang saya bawa dalam botol 500 ml hanya terisi 3/4 bagian.

"Cukup,"

"Kita masak air juga loh," ujar teman saya lagi. Memastikan.

"Cukup,"

Keesokan harinya, setelah dua kali menu masak dan tiga kali memasak air, spirtus yang kami bawa masih bersisa sekitar 200 ml.

"Percaya kan?" kata saya.

"Percaya mah ka Allah," jawabnya. Kami pun tertawa sepanjang perjalanan.

Spirtus memang selalu jadi pilihan bahan bakar yang saya bawa baik untuk sekadar kemping, ataupun naik gunung. Umumnya, gas kaleng jadi pilihan mayoritas pegiat outdoor activity karena dinilai praktis.

Alasan saya sangat sederhana kenapa lebih memilih memakai spirtus, karena sejauh ini spirtus adalah bahan bakar yang bisa mendukung saya untuk meminimalisir produksi sampah saat berkegiatan adventure. Sementara kaleng gas berpotensi menjadi sampah, dan merupakan salah satu sumber sampah yang paling banyak ditemukan di gunung, selain sampah plastik dan botol air mineral.

Berdasarkan data Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, pada aksi bersih gunung yang dilakukan pada 29-30 Maret 2019 berhasil dikumpulkan total 565 kg. Jumlah tersebut berasal dari jalur pendakian Gunung Putri (334 kg sampah), dan jalur pendakian Cibodas (231 kg).

Total sampah itu terdiri dari: 145 Kg botol air mineral dalam kemasan (AMDK), 104 Kg kaleng gas (B3), 80 Kg tisu basah/ kering, 127 Kg sampah plastik , dan sampah lain-lain sebanyak 109 kg.

Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingatkan kembali kalau motivasi saya adalah menerapkan zero waste dalam setiap kegiatan adventure yang saya lakukan. Jadi, perspektif meminimalisir sampah sejak awal selalu jadi prioritas utama.

lanjut yaa..

Bahan bakar spirtus bisa dibeli literan di toko kimia. Di toko bangunan memang ada, namun biasanya sudah dijual dalam kemasan botol plastik sekali pakai. Di toko kimia, spirtus dibeli harus dengan membawa jeriken atau botol spirtus sendiri. Cara ini, sangat memudahkan untuk menghindari sampah botol plastik sekali pakai.

Kemudian, spirtus dibawa menggunakan botol ukuran 1 Liter, atau 500 ml, jumlahnya sesuai kebutuhan kegiatan adventure. Saya pribadi hanya punya dua botol khusus spirtus, masing-masing ukuran 1 liter dan 500 ml. Ketika butuh jumlah spirtus lebih dari 1,5 Liter, saya akan pinjam botol spirtus lainnya ke teman yang punya. hehe.

Dua botol spirtus yang saya punya sejak 2012, membantu saya menghindari produksi sampah dari bahan bakar.


Kenapa tidak bahan bakar gas kaleng?

Jawaban saya sederhana, tentu karena kaleng gas berpotensi menjadi sampah (sampah kaleng). Ada beberapa hal terkait potensi sampah gas kaleng yang perlu dibahas:

1. Sampah kaleng gas adalah salah satu jenis sampah yang cukup banyak ditemukan selain plastik dan botol plastik sekali pakai. Ini adalah fakta di lapangan, yang menggambarkan bahwa penggunaan kaleng gas yang memang praktis, tidak berbanding lurus dengan kesadaran untuk mengolah sampah kalengnya dengan baik dan benar.

2. Sampah kaleng gas tidak boleh dibuang bersama dengan sampah konvensional lainnya. Karena sampah kaleng gas adalah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Kaleng gas harus dibuang secara khusus, seperti dibuang ke tempat khusus pengolahan limbah B3 (sayangnya secara sistem masih sulit sekali menemukan ini, terutama di basecamp kaki gunung tidak ada), disetor ke bank sampah (jika menerima kaleng gas), atau diberikan pada pengepul (yang lebih mengetahui tempat pengepul besar yang menerima limbah kaleng gas). Praktik memilah sampah B3 ini sangat jarang dilakukan pengguna kaleng gas.

3. Kaleng gas kan bisa diisi ulang? faktanya, gas kemasan kaleng sebetulnya diperuntukan untuk penggunaan sekali pakai. Ini tertera pada setiap kemasan kaleng, dan tidak disarankan untuk mengisi ulang kaleng gas. Ini karena dalam pembuatan kaleng aerosol seperti gas kaleng, diberlakukan tekanan tertentu. Salah-salah isi ulang, bisa berbahaya.

4. Kaleng gas kan nanti juga bisa didaur ulang? Betul. Tapi kenyataannya, berapa persen kaleng gas yang berhasil terdaur ulang? Saya belum menemukan data spesifik yang menyebutkan hal ini, namun untuk jenis sampah plastik saja hanya kurang dari 10 persen yang terdaur ulang (dari sekian banyak sampah plastik yang ada!). Daur ulang memang bisa jadi solusi, jika sistem manajemen sampahnya tersedia.


Bagaimana dengan kekurangan bahan bakar spirtus dan gas kaleng?

Pastinya ada. Kelemahan spirtus adalah, karena dia berupa cairan jadinya lebih berat dibandingkan gas kaleng. Satu kaleng gas rata-rata memiliki berat isi 230 gram. Sementara untuk satu botol spirtus 500ml (berisi penuh spirtus), beratnya sekitar 500 gram.

Kelemahan lainnya, ada potensi bocor atau tumpah, apalagi jika botol yang digunakan bukan botol khusus spirtus.

Kelemahan potensi bocor ini juga dimiliki gas kaleng. Gas bisa bocor jika kaleng tidak ditutup dengan benar (misalnya tertekan saat packing). Selain itu, meskipun api dari gas kaleng relatif stabil, tapi gas kaleng berpotensi beku/sulit keluar di suhu dingin.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan masing-masing, kompor spirtus masih tetap jadi preferensi saya (dengan motivasi utama meminimalisir sampah).


Alternatif lain bahan bakar minim sampah?

Alternatif lain bahan bakar yang minim sampah untuk kegiatan luar ruang, adalah kompor multifuel. kelebihan kompor ini bisa menggunakan berbagai bahan bakar seperti bensin, solar, dan lainnya selain spirtus.

Kelemahannya, harganya cukup mahal dibandingkan kompor gas atau kompor spirtus. Tapi worth to try kalau teman-teman mau investasi barang outdoor di kompor multifuel, karena penggunaannya bisa sangat lama.***


*Artikel ini adalah pemantik untuk membuka diskusi yang lebih luas lagi mengenai bahan bakar minim sampah yang bisa digunakan saat berkegiatan luar ruang. Teman-teman yang memiliki pengalaman dan perspektif lain mengenai meminimalisir sampah dari bahan bakar, bisa saling berbagi di kolom komentar yaaa.

No comments:

Post a Comment