Sunday, June 28, 2020

Planetarian, Pola Makan Ramah Lingkungan


Photo by Ella Olsson

POLA makan planetarian sedikit disinggung dalam film dokumenter Diam dan Dengarkan. Sebuah film yang mengangkat isu kerusakan lingkungan, dan kaitannya dengan pandemi virus corona.

Apa itu planetarian?
"Planetarian sederhananya adalah pola makan ramah lingkungan. Pola makan dengan minimal 90 persen nabati, dan 10 persen hewani," kata Max Mandias, praktisi pola makan plant-based.

Implementasi sederhana pola makan planetarian, menurut Max, dalam satu minggu kita bisa mengonsumsi makanan yang berbasis nabati (plant based) selama lima hari. Sedangkan dua hari lainnya mengonsumsi kombinasi nabati dan hewani.

Mengenal lebih jauh mengenai planetarian, konsep ini diperkenalkan EAT, sebuah platform global berbasis sains tentang transformasi sistem makanan. 

Mengutip laman resmi mereka, eatforum.org, EAT menyebut planetarian (The planetary health diet) sebagai pola makan yang menekankan nabati sebagai sumber dominan yang dikonsumsi. Di antaranya sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan. Sementara daging dan juga susu juga dikonsumsi, tapi hanya dalam proporsi yang sedikit. 

Pola makan planetarian sangat fleksibel dan tidak menekankan jenis tanaman tertentu, namun justru menyesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Karena itu, pola makan ini sangat bisa diadaptasi semua orang di berbagai belahan dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang berbeda.

FOTO: eatforum.org


Kenapa Planetarian


Lalu kenapa pola makan planetarian ini disebut sebagai pola makan yang ramah lingkungan? Dalam studinya, EAT memaparkan penjelasan yang komprehensif mengapa pola makan yang baik bisa sangat berdampak pada keberlangsungan lingkungan hidup yang baik.

Makanan yang kita makan, dari mulai diproduksi, didistribusi, dikonsumsi, hingga food waste dan food lost yang dihasilkan memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Dilihat dari isu lahan misalnya, berdasarkan data EAT, pertanian dunia saat ini menempati hampir 40 persen dari lahan global. Konversi lahan untuk produksi makanan menjadi penyebab hilangnya keanekaragaman hayati. Produksi makanan juga bertanggung jawab atas 30% emisi gas rumah kaca global dan 70% penggunaan air tawar.

Sementara itu sumber protein hewani seperti daging merah memiliki dampak jejak karbon yang sangat tinggi. Dampaknya pada emisi gas rumah kaca, hingga climate change. EAT menyebut, hal ini terutama terjadi pada makanan sumber hewani dari ternak yang diberi makan gandum.

Senada dengan fakta ini, Max Mandias juga menyebut terdapat rasio konversi pakan ternak (feed conversion ratio) yang menyebabkan kebocoran kalori yang merugikan lingkungan. "Saat ini pakan ternak itu mayoritas sudah tidak natural. Rata-rata pakannya adalah dari biji-bijian. Misalnya pakannya adalah kedelai, yang jika dikonsumsi langsung manusia itu misalnya 100 kalori. Namun karena ada feed convertion tadi, cuma menjadi 12 kalori dalam bentuk daging ayam, atau 3 kalori dari daging merah. Jadi ada kebocoran kalori, dan dampak negatif kebocoran ini bukan kita yang 'bayar', melainkan bumi," ungkap Max. 

Biaya dampak lingkungan dari kebocoran kalori tadi menjelma dalam bentuk limbah peternakan, emisi gas rumah kaca, yang berujung pada perubahan iklim.
 
Dengan mengurangi konsumsi daging, artinya kita mengurangi demand (permintaan) akan produksi hewan ternak yang berlebih. Kita juga lebih bisa mendapatkan manfaat nutrisi yang lebih besar dengan mengonsumsi lebih banyak sayuran, dan menghindari kebocoran kalori tadi, sekaligus mengurangi efek gas rumah kaca.

Dalam studinya, EAT menyebut bahwa mengubah pola makan tidak sehat menjadi pola makan planetarian yang ramah lingkungan dapat mencegah 11 juta kematian orang dewasa prematur per tahun. Dan lebih lanjut, pola makan ini mendorong sistem pangan lobal yang berkelanjutan, dan memastikan orang mengonsumsi makanan yang sehat dalam batas wajar sehingga tidak mengeksploitasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati bumi ini.

Kearifan lokal

Mendengar istilah planetarian, bagi sebagian banyak orang mungkin sama rasanya seperti mendengar jenis pola makan sehat lainnya. Terdengar berat dilakukan, cenderung ekslusif untuk segelintir orang saja, dan terkesan terlalu budaya barat.

Kesan ini menurut saya pribadi, bisa jadi muncul karena yang marak diperkenalkan di media sosial adalah jenis sayuran atau sumber nabati lainnya yang masih kurang familiar, atau kurang umum bagi mayoritas masyarakat Indonesia.

Saya sepakat dengan pendapat Max, bahwa pendekatan untuk memperkenalkan pola makan sehat ramah lingkungan harus menggunakan pendekatan berbasis kearifan lokal. "Karena sebetulnya keragaman nabati dan sumber sehat itu banyak sekali yang lokal kita. Prinsipnya, pola makan sehat harus didekatkan dengan pola makan nenek moyang. Karena memang dekat sekali hubungannya," kata Max.

Sumber nabati yang berbasis kearifan lokal misalnya berbagai jenis umbi-umbian seperti ubi, singkong, talas, dan lainnya. Jenis umbi yang jarang menjadi makanan utama warga barat.

Atau kalau tren barat akan makanan sehat adalah mengonsumsi kacang-kacangan seperti almond, hingga mete, kita bisa mengonsumsi kacang-kacangan yang lebih familiar seperti kacang merah, kacang hijau, kacang tanah, dan lainnya.

Contoh sederhana lainnya, jika tren makan sehat adalah mengonsumsi salad, kita bisa mulai dari yang paling sederhana dan dekat dengan kita seperti lotek, atau gado-gado.

Memulai pola makan dari jenis makanan yang paling familiar dan dekat dengan kita, saya kira bisa menjadi pintu masuk yang sangat baik untuk membantu kita membiasakan diri menerapkan pola makan planetarian dengan menu yang lebih beragam.

Menerapkan pola makan sehat, membawa kita kembali mengenali pangan lokal yang ada di sekitar.***

No comments:

Post a Comment