Saturday, August 25, 2018

Kenapa Harus Menstrual Cup?

Menstrual Cup

TIGA bulan lalu, Juni 2018, akhirnya untuk pertama kalinya aku punya menstrual cup. Sempat mau beli online di situs belanja luar negeri, tapi gak jadi karena kebetulan ada teman yang ke Singapura dan bisa dititipi beli menstrual cup.

Sejauh ini, menstrual cup memang baru diproduksi oleh perusahaan-perusahaan luar negeri. Dan pemasarannya belum masif di Indonesia, karena memang penggunaan menstrual cup belum jadi budaya di tanah air.


Setidaknya ketika artikel ini ditulis, cara terbaik untuk bisa mendapatkan menstrual cup adalah beli online di situs belanja luar negeri, atau jasa titip ke teman yang lagi bepergian ke luar negeri.

Di dalam negeri sebenarnya udah ada yang jual juga. Seperti di lapak-lapak belanja online, atau toko online. Tapi karena memang masih tergolong baru, kita gak tau mana yang bisa jamin menstrual cup yang dijual memiliki kualitasnya baik atau ngga.

Ada banyak merk menstrual cup yang beredar di pasaran. Misalnya seperti Lunette Cup (Finlandia), Moon Cup (Inggris), Diva Cup (Amerika Serikat), serta Freedom Cup (Singapura).

Merk yang disebut terakhir, adalah  menstrual cup yang saya punya. Tidak ada alasan spesifik kenapa memilih merk tersebut, simply karena teman yang saya titip beli menstrual cup sedang pergi ke Singapura.

Untuk memilih merk menstrual cup yang digunakan, kalian bisa telusuri lebih lanjut tentang merk-merk tersebut untuk memastikan kualitasnya terpercaya. Cari perusahaan menstrual cup yang memiliki situs resmi, track record positif dari konsumennya, memiliki visi pelestarian lingkungan, dan hal lainnya untuk memastikan pilihanmu.

Memasang menstrual cup


Gila! Kata pertama yang keluar di benak saya setelah pertama kali pakai menstrual cup. Gila, kenapa gak dari dulu ya! hehehe. Meski sempet bingung seperti apa pakai menstrual cup, Ternyata nyaman-nyaman aja pakai menstrual cup. Malahan seperti tidak pakai apa-apa.

Sebagai perempuan yang sudah menikah, saya gak terlalu khawatir ketika akan mencoba memakai menstrual cup. Tapi, saya tidak lantas langsung berhasil di percobaan pertama.

Setidaknya di percobaan kelima baru berhasil memasukkan menstrual cup, disertai sedikit panik takut gak bisa keluarinnya. hahaha.

Saya menggambarkan memasukkan menstrual cup ke dalam vagian, seperti sedang USG transvaginal. kalau yang pernah menjalani UsG Transvaginal pasti tau rasanya, deg-deg-an, malu, trus agak kaget sewaktu alatnya masuk ke lubang vagina kita.

Tapi setelah menstrual cup berhasil masuk dan posisinya tepat, perasaan seperti USG Transvaginal itu langsung hilang. Karena sama sekali tidak ada yang mengganjal. Bahkan bagian ujung (gagang) menstrual cup juga tidak terasa, tapi bisa kita raih karena posisinya tidak terlalu jauh/dalam dari bibir vagina.

Posisi jongkok dengan kaki membuka, adalah cara menurut saya lebih mudah untuk memasukkan menstrual cup.

Selanjutnya, teknis menggunakan menstrual cup saya jelaskan di video ini:


Kenapa harus menstrual cup

Sebenarnya kenapa sih harus beralih ke menstrual cup? Jawabannya, gak harus!.

Kalau saya pribadi, karena motivasi zero waste untuk  mengurangi sampah selama periode menstruasi, saya mulai beralih dari pembalut yang dulu biasanya saya pakai. Sebelum akhirnya pakai menstrual cup, dua tahun terakhir saya pakai mens pad (pembalut kain), dan kain handuk kecil untuk kalau sedang keputihan.

Tapi kemudian saya melihat potensi sampah dari menstrual cup ini lebih minim lagi dibandingkan mens pad. Karena cara membersihkannya yang lebih praktis dibandingkan menspad. Apalagi, menstrual cup ini usianya awet bisa sampai 10 tahun. Jadi, meskipun harganya lumayan mahal, mulai dari sekitar Rp 400.000-an, tapi bisa dipakai bertahun-tahun.

Dari sisi alasan kesehatan, menstrual cup juga disebut-sebut lebih sehat dibandingkan tampoon maupun pembalut. Ini karena menstrual cup tidak mengandung zat kimia berbahaya yang bisa dilepaskan saat bersentuhan dengan vagina.

Saya bukan ahli dalam hal ini, tapi logikanya kenapa kita berpandangan pembalut biasa yang jelas mengandung zat kimia seperti klorin aman dipakai? Jadi sebenarnya gak ada alasan untuk takut pakai menstrual cup, kecuali soal cara pemakaiannya untuk yang belum terbiasa.

Penggunaan menstrual cup di Indonesia memang menuai pro dan kontra. Bukan kontra masalah kesehatan, tapi juga lebih terkait soal tabu masuknya benda asing ke dalam vagina, terutama untuk teman-teman perempuan yang belum menikah.


Seperti yang saya ceritakan di atas sebelumnya, menstrual cup memang budaya barat, dimana mereka terbiasa menggunakan tampoon selama masa menstruasi. Tampoon adalah sejenis bantalan kapas lembut berbentuk silinder, yang cara penggunaannya dimasukkan ke dalam vagina untuk menyerap darah haid layaknya pembalut.

Di Indonesia, penggunaan tampoon juga kurang umum karena kita terbiasa dengan penggunaan pembalut berbentuk bantalan yang digunakan untuk melapisi celana dalam.

Jadi bisa terlihat jelas, masih dianggap tabunya menstrual cup lagi-lagi berkaitan dengan kebiasaan/budaya yang ada di negara kita.

Saya pribadi merekomendasikan untuk teman-teman yang belum menikah dan memang merasa ragu dengan pemakaian menstrual cup, ya tidak perlu memaksakan untuk pakai menstrual cup.  Masih ada alternatif lain untuk mengurangi sampah pembalut, seperti mens pad, atau pun pakai kain handuk/bahan menyerap seperti yang dipakai orang tua kita zaman dulu. Kembali ke budaya lama.

Tapi kalau pun mau mencoba menstrual cup, ini aman. Karena, ada ukurannya yang juga bisa disesuaikan dengan usia di bawah 30 tahun atau belum menikah, atau disesuaikan dengan siklus darah menstruasi.

Pada akhirnya, baik menstrual cup atau menstrual pad, intinya adalah pilih yang paling nyaman menurut kondisi masing-masing dan baik untuk lingkungan. Pilih produk jangan karena tren, tapi karena memang kamu ingin mengubah gaya hidup lebih baik yang ramah lingkungan.***

1 comment:

  1. Ngeri ahh kapit :D tapi itu btw bisa nampung berapa ml darah, kayak kalo misal kita pake pembalut kan minimal ganti sampe 4/5 kali lah sehari, kalo ini kira-kira kumaha ?

    ReplyDelete