"Gunung adalah rumah kami," begitu bunyi salah satu bagian lirik lagu yang melantun indah bersama tampilan landscape Papua yang cantik membuka film Teman Tegar: Maira (Whisper from Papua). Sebuah film yang tidak hanya menceritakan kisah, tapi melibatkan kita untuk merasakan keterikatan dengan alam melalui visual yang disuguhkan.
Teman Tegar: Maira mengisahkan Tegar yang berlibur ke Papua dengan keinginan sederhana: melihat burung cendrawasih di habitat aslinya. Dalam perjalanannya, ia bertemu Maira, seorang anak lokal yang mengenal hutan bukan sebagai objek wisata, melainkan sebagai ruang hidup. Keduanya menghadapi situasi serius untuk membantu menyelamatkan hutan.
Seperti tercantum dalam judulnya, whisper from Papua, film ini tidak berteriak. Namun ia berbisik. Teman Tegar: Maira (Whisper from Papua) berbisik lembut tentang krisis ekologi dan kerusakan lingkungan. Bisikan yang justru sangat powerful menyampaikan suara alam yang lirih.
Sepanjang film, kita akan disuguhkan dengan pemandangan luar biasa dari Papua, yang menjadi latar utama cerita. Yang justru sangat menyentuh, keindahan di film ini bukan dipamerkan, namun melayani makna alam sepenuhnya. Lanskap Papua ditangkap dengan rasa hormat, tidak dipoles berlebihan. Sutradara film Teman Tegar: Maira, Anggi Frisca, paham betul bahwa alam bukanlah objek untuk dieksploitasi.
Dalam kacamata filosofi lingkungan deep ecology, yang dicetuskan Filsuf Norwegia Are Naess (1970), seluruh mahkluk hidup sejatinya memiliki nilai yang setara. Manusia dan alam berdiri sejajar, tidak ada yang lebih dominan, tidak ada yang sepenuhnya berkuasa. Seperti diingatkan dalam film Teman Tegar; Maira, ""Semua pohon di hutan adalah saudara kita."
Dalam Teman Tegar: Maira, hubungan manusia dengan alam juga dibangun melalui pengalaman sehari-hari dan sederhana. Papua dalam film ini bukan latar eksotis, melainkan ruang hidup: hutan, tanah, pohon, sungai, laut yang semuanya membentuk identitas Maira yang pintar, lembut, dan pemberani.
Kesederhanaan cerita yang disuguhkan sepanjang film membuat emosi bagi penonton tidak dipaksakan; ia tumbuh perlahan, seperti lumut di batang pohon—diam, tapi mengakar.
Teman Tegar: Maira, menyampaikan pesan pelestarian alam dengan cara yang jujur dan sederhana. Tanpa ceramah atau menggurui. Kepedulian terhadap hutan hadir lewat hal-hal yang nyaris tak terdengar: percakapan khas lokal, tatapan yang berkaca-kaca, hingga tradisi dan kegiatan-kegiatan kecil yang dilakukan para pemeran di filmnya.
Ada satu adegan ketika Maira memeluk pohon yang telah tumbang. Kamera membiarkannya berlangsung apa adanya. Pelukan itu sangat terasa bukan sebagai akting, melainkan sebagai respons jujur manusia yang merasa terlambat menyelamatkan sesuatu yang ia cintai. Kita tidak sedang menonton simbol, namun menyaksikan kehilangan.
Kekuatan adegan tersebut justru datang dari kenyataan bahwa emosi itu nyata. Elizabeth Sisauta, pemeran Maira, mengungkapkan bahwa adegan tersebut adalah adegan paling sulit baginya karena hanya bisa diambil satu kali. Melihat pohon besar yang tumbang di depannya memicu gejolak perasaan yang tak bisa direkayasa.
“Kenapa sih (ada yang tega tebang pohon). Kita kan harus jaga hutan,” ujarnya ketika ditemui seusai pemutaran perdana film Teman Tegar: Maira, di Cihampelas Walk, Bandung, Rabu, 21 Januari 2026.
Ungkapan yang polos dan sederhana, tapi justru menjadi sumber momen paling kuat dalam film. Karena bagaimaapun kekuatan film kadang lahir bukan dari dialog yang ditulis dengan cermat, melainkan dari reaksi pemerannya yang spontan dan jujur.
Emosi film ini juga terasa semakin kuat karena lantunan lagu “Inja Emete Waesi” karya Joan Wakum. Lagu yang bukan sekadar ilustrasi musik, melainkan suara batin film itu sendiri.
Lagu ini mengalun seperti doa yang tertinggal di udara—lirih, jujur, dan sarat rasa kerinduan akan alam yang lestari. "Inja Emete Waesi" menjadi gema harapan, serta cinta pada hutan Papua yang terasa sangat personal.
Dan meski berlatar cerita tentang hutan Papua, film ini bukan hanya menyoal tentang Papua. Lebih jauh, menyasar kondisi kerusakan alam yang terjadi di tanah air kita. Teman Tegar: Maira tidak memaksa kita untuk peduli dengan persoalan penting nan kompleks itu. Film ini justru memberikan ruang agar kepedulian itu tumbuh dengan sendirinya.
Ketika lampu bioskop kembali menyala, kita seolah telah diajak berbincang dengan lembut. Seakan film ini bertanya, tanpa tekanan "setelah melihat ini, apa yang akan kamu lakukan?"
Dan pertanyaan itu, seperti banyak pertanyaan terbaik dalam sinema, tertinggal lama di dalam hati, menunggu kita cukup berani untuk menjawabnya dengan tindakan nyata.***

.jpeg)
No comments:
Post a Comment