| Acar Buah dan Bunga / Foto dokumen www.zerowasteadventures.com |
Apa yang pertama kali terlintas di benakmu, ketika mendengar kata Acar? Pasti langsung teringat segarnya irisan mentimun, wortel, dan bawang. Pendamping yang tepat untuk menikmati sate, nasi goreng, hingga martabak.
Di Indonesia, acar memang paling identik dengan mentimun, wortel, dan bawang. Padahal, acar tidak hanya terbatas pada mentimun dan wortel saja. Selain berbagai sayuran, buah dan bunga juga dapat dikreasikan sebagai acar dengan rasa yang otentik.
Acar buah dan bunga terdengar asing, karena kita terbiasa menikmati buah dalam kondisi segar atau diolah menjadi manisan dan rujak. Salah satunya dipengaruhi musim, karena Indonesia adalah negara dua musim.
"Di kita (Indonesia-red) sayuran dan buah segar bisa didapatkan sepanjang tahun. Kalau di negara 4 musim, mereka lebih banyak mengacar berbagai jenis sayur, buah, dan bunga karena sulit didapatkan sepanjang tahun," ujar Rhea Laras, pegiat kuliner Kota Bandung, pada diskusi santai kami di workshop membuat Acar Buah dan Bunga, di Toko Nol Sampah Dago, Sabtu, 17 Januari 2026 lalu.
| Rhea Laras, Pegiat Kuliner Kota Bandung saat memberikan sesi Workshop Membuat Acar Buah dan Bunga, Sabtu, 17 Januari 2026 di Toko Nol Sampah. |
Acar sudah ada jauh sebelum kulkas menjadi barang wajib di dapur. Teknik mengacar adalah sebuah cara tradisional untuk mempertahankan bahan makanan agar tahan lebih lama. Dengan bantuan garam, cuka, atau fermentasi alami, buah dan sayur bisa bertahan berbulan-bulan.
Teknik ini diperkirakan sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, dari wilayah Timur Tengah hingga Asia, lalu menyebar ke berbagai budaya dengan versi dan rasa yang berbeda-beda. "Bahkan sebenarnya tidak ada expired date untuk acar, selama teknik pembuatannya dan penyimpanannya benar," kata Rhea.
Di banyak negara, mengacar buah dan bunga adalah hal yang lumrah. Di Jepang misalnya ada umeboshi dari buah ume yang asam dan tajam. Di Korea, bukan cuma sawi yang difermentasi, tapi juga lobak, daun, bahkan bunga liar musiman.
Di Eropa Timur, acar apel dan beri sering muncul sebagai pelengkap daging. Sementara di Timur Tengah dan India, acar mangga, lemon, dan kelopak bunga tertentu diolah dengan rempah yang berani dan penuh karakter.
Budaya mengacar di berbagai negara juga erat dengan musim dan tradisi. Saat panen melimpah, bahan makanan diolah menjadi acar sebagai bentuk persiapan menghadapi musim dingin atau masa sulit. Karena itu, acar bukan sekadar makanan, tapi juga cerita tentang ketahanan, kreativitas, dan hubungan manusia dengan alam. Setiap stoples acar biasanya menyimpan rasa, aroma, dan kebiasaan khas daerah asalnya.
Mengacar adalah tradisi kuno, yang masing sangat relevan dengan kebutuhan dapur modern saat ini.
Cara Membuat Acar Buah dan Bunga
Kalau bicara acar buah dan bunga, pilihannya ternyata luas dan menarik. Buah seperti nanas, mangga muda, apel, pir, anggur, jeruk, dan pepaya muda cocok dijadikan acar.
Untuk bunga, yang umum digunakan antara lain bunga kecombrang, rosella, bunga telang, melati, mawar, hingga bunga labu. Selama bisa dimakan dan diolah dengan benar, buah dan bunga bisa berubah menjadi acar yang segar, wangi, dan membuka cara pandang baru tentang rasa.
Juga, karena tampilannya yang semarak warna, acar buah dan bunga juga semakin menambah selera makan.
Dalam workshop membuat acar buah dan bunga, Rhea Laras memperkenalkan cara mengacar dengan dua cara. Yaitu teknik hot dan cold.
Teknik hot dalam membuat acar dilakukan dengan cara merebus larutan cuka, air, gula, dan garam hingga mendidih, lalu langsung dituangkan panas-panas ke atas buah atau sayur yang sudah disiapkan di dalam wadah.
Panas dari larutan ini membantu penyerapan rasa lebih cepat, dan sekaligus membuat acar lebih awet. Teknik ini cocok untuk sayuran bertekstur keras seperti wortel, buncis, atau kol, dan hasil rasanya cenderung lebih “matang” serta tajam.
Sementara teknik cold atau dingin dibuat tanpa proses pemanasan. Buah atau sayur segar langsung direndam dalam larutan cuka, air, gula, dan garam yang sudah dicampur dan didinginkan.
Proses cold menghasilkan acar dengan rasa yang lebih segar, renyah, dan ringan, namun membutuhkan waktu lebih lama agar bumbu meresap sempurna. Teknik cold cocok untuk buah-buahan, bunga, atau sayuran lembut, dan disimpan di kulkas agar tetap segar.
Acar mampu bertahan lama, asalkan jar kaca yang digunakan saat membuat acar bersih dan steril. Kemudian disimpan dengan baik tidak terkena cahaya matahari langsung, atau disimpan dalam kulkas. Selain itu, setiap kali mengambil acar harus menggunakan sendok yang bersih agar tidak ada kontaminasi. ***
No comments:
Post a Comment